Todo list:
Semangat!!
All Japanese know this genius novelist, one of two greatest masters of short novel in world literature with Russia' s Chekov.
Tidak mengherankan. Akutagawa Ryunosuke memang penulis cerpen jenius, di samping kenyataan bahwa dia akhirnya bunuh diri. Mengapa ya, penulis yang berbakat terkadang meninggal dalam usia muda? Sial, dia memberi link ke Wikipedia bahasa Perancis. Aku tahu dia pandai dalam bahasa Perancis, tapi ya mbok jangan segitunya.
...
Detik demi detik berlalu. Aku dan Eri mulai memenuhi papan igo di depan layar masing-masing dengan biji-biji hitam dan putih. Aku tahu, beberapa langkah lagi permainan akan berakhir. Dia pun mungkin tahu akan hal itu. Posisi kedua biji sangat rumit, kesalahan langkah sedikit dapat mengakibatkan kekalahan total.
Sebuah pesan tiba-tiba masuk. Eri meminta untuk menghentikan untuk sementara permainan. Aku bertanya mengapa. Katanya ia sedang berhadapan dengan lawan yang lain dengan batasan waktu. Dia mengaku tidak bisa berkonsentrasi melawanku dan lawannya pada saat yang bersamaan. Aku tahu bahwa posisi bijiku di papan sedikit lebih baik dari dirinya. Aku pun mengalah dan menyetujuinya. Dan aku yakin, permainan ini tidak akan dilanjutkan lagi.
Sejak saat itu, setiap ada kesempatan, aku membiasakan diri untuk bermain igo online. Sudah beberapa orang yang kulawan, lebih sering akunya yang menderita kekalahan. Yeah, no pain no gain. Aku pun terus bermain sampai bertemu dan berkenalan dengan beberapa orang. Di antaranya adalah si lilinkecil dan orang Jepang yang menjadi inti dari cerita ini.
(bersambung)
The only Japanese writer I ever read is Akutagawa Ryunosuke..
Do you know about him?
I read his novelet "Kappa" for the first time at elementary school.
At that time, off course I didn't notice that it was written by him.
Aku membaca kembali email balasanku untuknya. Setelah merasa yakin telah membuat kesalahan tata bahasa yang minimum, aku pun mengeklik tombol Send. Novelet Kappa merupakan salah satu karya Akutagawa Ryunosuke yang cukup populer. Aku yakin dia pasti mengetahuinya. Lagipula, mereka berasal dari negara yang sama.
...
Lima belas menit waktu yang kami perlukan untuk sampai ke warung internet ini. Warnet ini bernama PeeVee, berlokasi di dalam gang setelah kantor PDAM di jalan Kelud. Sudah beberapa kali aku mengunjungi warnet ini, biasanya untuk mencari bahan untuk tugas. Kali ini tujuannya agak berbeda, aku dan temanku Eri akan berduel igo secara online.
Setelah kami mendapatkan komputer untuk masing-masing. Aku segera masuk ke Yahoo! Games seperti yang diajarkan oleh Eri. Sembari menunggu Java Applet memuat game, aku mengecek email dan membaca-baca. Ketika jendela game terbuka, aku pun mencari ID milik Eri. Setelah melakukan chatting sebentar, aku pun mencari papan yang disediakan sebagai arena tempat kami bertanding. Eri mempersiapkan papan berukuran 9x9 tanpa batas waktu pertandingan dan tanpa Komi. Aku memilih biji putih dan bersiap ketika papan pertandingan tampil di layar.
Igo dimainkan oleh dua orang yang masing-masing menggunakan biji hitam dan putih. Berbeda dengan catur, pada igo, pemain yang memegang biji hitam diperbolehkan untuk melangkah terlebih dahulu. Berdasarkan statistik pertandingan dari para jawara igo dunia, didapatkan data bahwa pemain yang memegang biji hitam memiliki catatan kemenangan lebih banyak daripada pemain biji putih. Oleh karena itu, diadakanlah aturan Komi, yaitu kompensasi nilai yang diberikan kepada pemain biji putih. Berdasarkan aturan di Jepang, besarnya Komi ini sekitar 5,5 poin untuk papan berukuran 9x9, 13x13, dan 19x19. Penggunaan nilai setengah (0,5) berfungsi untuk menghindari terjadinya nilai draw saat penghitungan akhir selesai.
(bersambung)